Berlanjut dengan polemik soal PNS muda yang sekarang lagi heboh-hebohnya memiliki rekening gendut?? apa yang diharapkan dari kaum muda saat mereka berkiprah di birokrasi, menjadi PNS? Saya lihat ada rasa kecewa yang sangat besar dari masyarakat saat PPATK temukan begitu banyaknya rekening janggal milik PNS muda? Belakangan ini di forum ini dan beberapa forum lain yang saya ikuti (jadi anggota maksudnya), kaum muda selalu menjadi pembicaraan dalam relasinya dengan mental korupsi. Gayus Tambunan, Nazaruddin dan beberapa politisi muda Senayan yg kian membuat pesimisme hadirnya pemimpin muda di masa depan kelak.
Saya sering merasa, saat seorang pemuda mendaftar jadi PNS, hakikatnya dia sudah siap untuk menanggung dosa. Kenapa demikian? karena jadi PNS artinya siap hidup dari kubangan korupsi! (terkecuali bagi mereka yang berdiam diri, tidak ikut-ikutan korupsi, meski untuk itu harus rela dikucilkan). Mugkin ini era korupsi sistemik dengan melibatkan kolektivitas & energi dinamis, dan anak muda dipakai karena kecerdasannya oleh yang tua. Kaum muda yang terjerat korupsi memang adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kerja-kerja korupsi sebelumnya! ada seperti contoh di sini (selain juga wanti-wanti emas yang di atas), apalagi kalai si anak muda itu pintar pastilah dipakai untuk menjarah dengan modus-modus canggih dan balutan ‘tidak menabrak aturan hukum’ (main rapi)!
Lebih sederhananya begini kaum muda memang dikaruniai kepintaran; menguasai teknologi serta cara-cara berbohongnya. Contohnya saja dengan adanya internet! Internet memanjakan mereka untuk selalu meningkatkan kapasitas diri, begitu tahu di kantor ada sistem yang tidak beres padahal dirinya tak kuasa untuk dikucilkan maka perlahan tapi pasti dia akan mengamini. Awalnya ya mngamini perlahan, tapi belakangan malah jadi pesaing ‘yg di atas’ dalam korupsi. Kenapa bisa begitu? Ya karena dia bisa manfaatkan kepintaran untuk memperkaya diri!!! Mustahil yang muda nyaman korupsi kalau tidak ada kerja sama & restu dari yang ‘itu’.
Sungguh ini keprihatinan kita bersama, tapi ya inilah wajah kita sesungguhnya!! Kaum muda (PNS atau politisi) yang punya kelimpahan kekayaan tak wajar dari jerih keringatnya itu hanya cerminan dari mereka yang sudah terlanjur malang melintang di ‘dunia perkorupsian’, tentunya tidak tiba-tiba ada demikian keadaannya kl tak ada keteladanan dari ‘itu’, bahkan masyarakat! Tapi, keyakinan akan masih banyaknya kaum muda yang muak & lebih pilih keluar dari perilaku korup ‘yang itu’.
Kita butuh sosok pemimpin yang punya integritas serta kejujuran, yang belum terkontaminasi oleh politik kotor yg dimainkan beberapa pihak tertentu saat ini, sosok pemimpin yang punya kesungguhan membangun Nagekeo, berani dan tegas serta sangat mencintai Nagekeo. Lazimnya kaum muda dibilang pemuda dengan label yang punya aksentuasi karakter historis revolusioner (kerennya pelopor perubahan cepat), berani dan pantang menyerah! sedangkan kaum tua sebaliknya; kesannya punya karakter konservatif (enggan perubahan) dan reaksioner (cepat bereaksi) pada segala hal yg mengusik kemapanan & asyiknya menikmati kekuasaan! Sehingga dalam konteks terminologi demikian bisa dibayangkan trendnya ketika kaum muda berkuasa!
Nah, berbagai pandangan mengapa kaum muda saatnya diserahkan estafet kepemimpinan seperti yang saya rekam selama ini adalah kepemimpinan generasi tua hanya sisakan luka pada rakyat, arti dari sebuah kepemimpinan yang penuh tanggung jawab tidak ada lagi, mereka hanya pikirkan kepentingan kelompok & partainya tanpa pernah mau pikirkan kesejahteraan rakyatnya serta tidak punya visi yg kuat terhadap pembangunan daerah yang lebih bermartabat; karena itu sudah saatnya ‘Pemimpin Generasi Tua; serahkan estafet kepemimpinan kepada generasi muda sebagai penerus & pewaris kepemimpinan demi kemajuan daerah yang lebih kreatif & produktif, yang mampu buat gagasan baru dan meninggalkan pola politik konvensional.
Di belahan daerah otonom yang lain, pengalaman membuktikan kalau kaum muda yang berpotensi mampu memimpin daerahnya keluar dari berbagai kesulitan, contoh konkrit langkah-langkah mereka dalam pengelolaan APBD misalnya, kendala keterbatasan anggaran untuk melakukan perubahan cepat diatasi dengan ‘vivere veri coloso’ (bahasa Genarro Gatuso-nya adalah berani mengambil resiko) anggaran defisit yang bahkan jauh lebih besar dari PAD murni tahunan! Asumsinya bagaimana? Dengan proyek, program & investasi dari defisit itu akan dihasilkan pertumbuhan yang pada waktunya bisa mengimbangi pendapatan daerah untuk membayar kembali defisit sebelumnya! Ada juga pemimpin muda yang konservatif jadi pemimpin pengganti antarwaktu di awal kepemimpinannya justru prioritas awalnya menutup lunas defisit APBD yang dibuat pemimpin pendahulunya!
Pengalaman membuktikn biasanya pemimpin dari kaum tua memang lebih cenderung untuk hanya mengutak-atik angka anggaran yang ada agar cukup dan semuany akan terlihat baik-baik saja, tanpa kecuali untuk berusaha hemat dalam kondisi pas-pasan sehingga bangga ketika akhir tahun punya sisa anggaran! Ironinya, dengan itu orientasi terpentingnya asal pemerintahan bisa tetap berjalan sebagaimana mestinya walau nanti kenyataannya usaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat menjadi kurang efektif dan ujung-ujungnya buat dia dan timnya bingung! Akibatnya apa??seperti yang menjadi kecemasan kita??rakyat dibiarkan saja sendiri bergulat dalam mengatasi kesulitan dengan infrastruktur fisik dan kelembagaan yang seperti itu! Nah kalau berhadapan dengan kecenderungan penguasa dari kaum tua sepert itu maka hadirnya kaum muda yang lebih punya sikap progresif properubahan cepat jelas akan sangat memberi harapan! Hanya saja masalahnya, mampu tidak kaum muda yang berkuasa sekarang ini punya karakter yang revolusioner itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan para sahabat mengomentari dan terimakasih